Assalamu 'alaikum
-
- kami pondok yang memperdalam ummul dan abul ilmu nahwu sorof.
-
Nahwu, Sharaf, Balaghah, Mantiq, Maani, bayan, Kamus, Uqudul-Juman, Mu'jam mughni, Alfiyah, Syawahid, Hasyiyah shaban, Munjid, Fathul-Mutaal, mu'jam lughah Al-I'zaj, Syarah Asymuni, Miftahul-Ulum, Nahwu Mushafa, Al-Intikhab
-
-
Kami Arriyyadul Muta'alim menerima santri tanpa batas minimum atau maximum usia.
-
Kitab yang kami Ajarkan dgan 2 sistem balagh/sorog di dasari
- Awamil syekh imam an nawawi albantani 3 versi atau tingkatan.
-
-
Contact us ;
- 087805313816
- 085211085450
- 083816110008
-
Silahkan menghubungi penjelasannya.
-
-
Jika anak atau sanak keluarga ingin di pesantrenkan insyaAllah amanah nya kami lakukan dgn memberi sedikit dari ilmu Allah , dengan bimbingan yang di ridhoi Allah swt dan ikhlas dalam menjalankan.
Tak ada misi atau visi atau doktrinitas . Karena dalam prinsipil Agama tidak ada paksaan namun tetap haq di hukumi wajib ! bagi muslim dan muslimah .
Kmi bukanlah yang terbesar tp brusaha yg trbaik
Kamis, 04 Juni 2015
Senin, 01 Juni 2015
Islam itu DINAMIS
Jangan ragu bahwa Islam itu dinamis dalam kehidupan.
Bahkan Alloh Ta'alaa pun bersumpah dgn waktu.
Yg pasti, meluruskan niat saat berbuat kebaikan, walau dulu menunggangi keledai, saat ini dgn bajaj.
Dulu ceramah di Tajuk, saat ini bisa di website,pages,situs, facebook.
Bahkan Alloh Ta'alaa pun bersumpah dgn waktu.
Yg pasti, meluruskan niat saat berbuat kebaikan, walau dulu menunggangi keledai, saat ini dgn bajaj.
Dulu ceramah di Tajuk, saat ini bisa di website,pages,situs, facebook.
Demi waktu , modern islami
Jangan ragu bahwa Islam itu dinamis dalam kehidupan.
Bahkan Alloh Ta'alaa pun bersumpah dgn waktu.
Yg pasti, meluruskan niat saat berbuat kebaikan, walau dulu menunggangi keledai, saat ini dgn bajaj.
Dulu ceramah di Tajuk, saat ini bisa di pages websites and facebook.
Bahkan Alloh Ta'alaa pun bersumpah dgn waktu.
Yg pasti, meluruskan niat saat berbuat kebaikan, walau dulu menunggangi keledai, saat ini dgn bajaj.
Dulu ceramah di Tajuk, saat ini bisa di pages websites and facebook.
galileuh bab 1
BAB 1
ILMU GALIHENG KANGKUNG
Oleh: Anfas Kusumu Al-Akhyar
Dalam waktu 24 jam manusia dituntut untuk mengosongkan qulub dari selain Alloh dengan Dzikrulloh, Ini sesuai dengan Isyarat dari kalimat Laa illaaha illallohu Muhammadur Rosulullohi yang berjumlah 24 huruf. Maka disinilah peranan seorang pembimbing ruhani yaitu seorang Guru Mursyid yang berhak menanamkan bibit tauhid kedalam ruh seseorang, sehingga ruhnya mengenal Alloh. .
Pengosongan qulub dari selain Alloh dengan dzikir adalah syarat utama bagi amal yang dapat diterima oleh Alloh. Dengan alat dzikir itulah dapat membersihkan raga, jiwa dan Ruh ( nyawa ).
Mengenai cara membersihkan raga ialah menyucikan hadast besar dan kecil, dan cara membersihkan jiwa adalah dengan mengendalikan bersitan-bersitan hawa nafsu, bisa dengan puasa.
Sementara cara membersihkan Ruh ( nyawa ) ialah ia harus mampu menggunakan ilmu GALIHENG KANGKUNG ( ISI BAGIAN DALAM KANGKUNG ) dengan Alat Dzikrulloh yang ditanam oleh seorang Wali Mursyid kamil mukamil.
Dan inilah yang terimplisit dibalik ayat berikut:
” Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tentram”. ( QS ARR’AD AYAT 28 )
Dengan demikian, barangsiapa yang sudah mampu (mengistiqomahkan) mengisi lubang-lubang jantung tersebut, maka dia sudah mampu mengamalkan ilmu GALIHENG KANGKUNG. Dan barang siapa yang sudah mampu mengamalkan ilmu ini, maka dia sudah betul-betul ikhlas. Artinya dia sudah benar-benar mampu berakhlaq dengan akhlaq Ahli LAA ILAAHA ILLALLOH.
Orang yang mengistiqomahkan dzikir khofi itu secara otomatis mengisi tiga lubang, yaitu:
1. Lubang yang menjadi tempat huruf ( Ismu Dzat )
2. Lubang yang menjadi tempat nafsu (nafsu positif dan nafsu negatif)
3. Lubang yang menjadi tempat At-Tauhid ( meng-Esakan )
Kesemuanya itu telah ditanam dan diisi oleh seorang Mursyid ketika kamu mau mengambil talqin dzikir itu. Sehingga kamu akan mampu untuk mengisi lubang-lubang tersebut secara otomatis.
Dan barangsiapa yang mengistiqomahkan dzikir khofi tersebut, maka kamu sudah mampu mengamalkan ilmu GALIHENG KANGKUNG ( Isi bagian dalam kangkung ). Dan barangsiapa yang ingin do’anya diijabah oleh Alloh, diterima hajatnya oleh Alloh, maka kita harus bisa mengosongkan lubang yang ketiga tersebut dari selain Alloh. Kemudian lubang-lubang itu diisi dengan dzikir yang berwasilah (dzikir yang ada tuntunannya).
Maka carilah dzikir yang seperti itu, jika kita ingin menjadi orang yang ahli taqwa. Tidak ada yang lain kecuali seorang Wali Mursyid. Carilah dia dan temukanlah ? karena beliau lah Guru yang mampu mengajar raga, jiwa dan nyawa, Guru yang mampu membakar semua dosa melalui dzikir. Nabi bersabda:
Bertaqwalah kamu dimanapun kamu berada, dan ikutkanlah kejahatan dg kebaikan yg bisa menghapusnya. Kemudian, berakhlaqlah kamu kepada manusia dg akhlaq yg baik ( HR AHMAD, AL HAKIM, ALBAIHAQIE DARI ABI DZARRIN, AHMAD, TARMIDZI, AL BAIHAQIE DARI MU’ADZ, IBNU ‘ASAKIR DARI ANAS )
Kemudian kamu meyakini apa yang diberikan oleh seorang Wali Mursyid tersebut sebagai obor ( penerang ) dalam hidup mu. Pasti kamu akan selamat dunia dan akherat. Selanjutnya jika kamu sudah menemukan Guru Mursyid yang seperti itu, Insya Alloh kamu akan menjadi orang yang Ahli Taqwa kepada Alloh. Wallohu A’lam.
MENEMPATKAN KHUSYU DIDALAM PANCA INDRA
Ketika kita mengambil talqin dari seorang mursyid, adalah menyatukan raga, jiwa dan nyawa dikenalkan dengan dzikir, hakikatnya adalah mengenalkan ruh kita kepada ALLoh. Secara otomatis kita dilatih untuk menempatkan khusyu didalam panca indra artinya mengistiqomahkan dzikir tersebut. Lisan berdzikir, hati dan akalpun ikut bebarengan ( bersama-sama ) berdzikir dan inilah yang diisyaratkan oleh ayat berikut:
alam ya/ni lilladziina aamanuu an takhsya’a quluubuhum lidzikrillaahi wamaa nazala mina lhaqqi walaa yakuunuu kalladziina uutuu lkitaaba min qablu fathaala ‘alayhimu l-amadu faqasat quluubuhum wakatsiirun minhum faasiquun
Artimya:
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. ( QS AL-Hadiid ayat 16 )
Dengan demikian kita dituntut supaya bisa ” Huduu’ul Khusyuu’i Bilkhowasil Khomsi ” ( menempatkan khusyu didalam panca indra ).
Artinya ada penglihatan jangan dilihat, ada suara jangan dihiaraukan, ada aroma jangan dicium, ada rabaan jangan diraba, ada rasa jangan dirasakan, bersedakep, menghadap, mantaf dan yakin, serta menutup sembilan lubang ( 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung, mulut, dubur dan qubul ) dengan dzikir. Sehingga menentramkan panca indra yang ada didalam raga, jiwa dan nyawa.
PINTU ANGIN (LUBANG ANGIN)
Jika kita ingin mengetahui hakikat kehidupan ini, maka carilah Pintu Angin ( Lubang Angin ) kalau orang jawa menyebutnya Lawanging Angin. Pintu itu ada didalam keluar masuknya pernafasan kita. Tidak akan dapat ditemukan pintu angin itu tanpa seorang Guru yang ahli dibidangnya ( Guru Pembimbing Ruhani )
Bila kita sudah menemukan seorang Pembimbing Ruhani ( Wali Mursyid ), maka pasti kita akan mengenal hakikat Pintu Angin tersebut. Sebab pintu angin itu ada didalam hakikat nafsu kita.
Dengan ditemukannya Pintu Angin yang terdapat didalam hakikat nafsu inilah, lahir ajaran yang disebut THORIQOH untuk menyiasati Nafsu yang Negatif sehingga menjadi nafsu yang Positif ( Nafsu yang diridhoi oleh Alloh ). Sehingga kita akan memperoleh kebahagiaan yang besar didunia dan diakherat, itulah hakikat Islam yang kaffah.
Islam yang kaffah adalah orang yang senantiasa ta’at (dawamuth Thoo’ati) berdasarkan Al Qur’an dan hadist, sesuai dengan petunjuk rosululloh.
Alloh bersabda :
yaa ayyuhaalladziina aamanuu athii’uullaaha wa-athii’uu rrasuula waulii l-amri minkum fa-in tanaaza’tum fii syay-in farudduuhu ilaallaahi warrasuuli in kuntum tu/minuuna bilaahi walyawmi l-aakhiri dzaalika khayrun wa-ahsanu ta/wiilaa
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. ( QS An-Nisa’ ayat 59 )
Semoga tulisan ini dapat menambah wawasan kita yang sedang belajar dzikir, belajar mengamalkan amanah dari Guru.
ILMU GALIHENG KANGKUNG
Oleh: Anfas Kusumu Al-Akhyar
Dalam waktu 24 jam manusia dituntut untuk mengosongkan qulub dari selain Alloh dengan Dzikrulloh, Ini sesuai dengan Isyarat dari kalimat Laa illaaha illallohu Muhammadur Rosulullohi yang berjumlah 24 huruf. Maka disinilah peranan seorang pembimbing ruhani yaitu seorang Guru Mursyid yang berhak menanamkan bibit tauhid kedalam ruh seseorang, sehingga ruhnya mengenal Alloh. .
Pengosongan qulub dari selain Alloh dengan dzikir adalah syarat utama bagi amal yang dapat diterima oleh Alloh. Dengan alat dzikir itulah dapat membersihkan raga, jiwa dan Ruh ( nyawa ).
Mengenai cara membersihkan raga ialah menyucikan hadast besar dan kecil, dan cara membersihkan jiwa adalah dengan mengendalikan bersitan-bersitan hawa nafsu, bisa dengan puasa.
Sementara cara membersihkan Ruh ( nyawa ) ialah ia harus mampu menggunakan ilmu GALIHENG KANGKUNG ( ISI BAGIAN DALAM KANGKUNG ) dengan Alat Dzikrulloh yang ditanam oleh seorang Wali Mursyid kamil mukamil.
Dan inilah yang terimplisit dibalik ayat berikut:
” Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tentram”. ( QS ARR’AD AYAT 28 )
Dengan demikian, barangsiapa yang sudah mampu (mengistiqomahkan) mengisi lubang-lubang jantung tersebut, maka dia sudah mampu mengamalkan ilmu GALIHENG KANGKUNG. Dan barang siapa yang sudah mampu mengamalkan ilmu ini, maka dia sudah betul-betul ikhlas. Artinya dia sudah benar-benar mampu berakhlaq dengan akhlaq Ahli LAA ILAAHA ILLALLOH.
Orang yang mengistiqomahkan dzikir khofi itu secara otomatis mengisi tiga lubang, yaitu:
1. Lubang yang menjadi tempat huruf ( Ismu Dzat )
2. Lubang yang menjadi tempat nafsu (nafsu positif dan nafsu negatif)
3. Lubang yang menjadi tempat At-Tauhid ( meng-Esakan )
Kesemuanya itu telah ditanam dan diisi oleh seorang Mursyid ketika kamu mau mengambil talqin dzikir itu. Sehingga kamu akan mampu untuk mengisi lubang-lubang tersebut secara otomatis.
Dan barangsiapa yang mengistiqomahkan dzikir khofi tersebut, maka kamu sudah mampu mengamalkan ilmu GALIHENG KANGKUNG ( Isi bagian dalam kangkung ). Dan barangsiapa yang ingin do’anya diijabah oleh Alloh, diterima hajatnya oleh Alloh, maka kita harus bisa mengosongkan lubang yang ketiga tersebut dari selain Alloh. Kemudian lubang-lubang itu diisi dengan dzikir yang berwasilah (dzikir yang ada tuntunannya).
Maka carilah dzikir yang seperti itu, jika kita ingin menjadi orang yang ahli taqwa. Tidak ada yang lain kecuali seorang Wali Mursyid. Carilah dia dan temukanlah ? karena beliau lah Guru yang mampu mengajar raga, jiwa dan nyawa, Guru yang mampu membakar semua dosa melalui dzikir. Nabi bersabda:
Bertaqwalah kamu dimanapun kamu berada, dan ikutkanlah kejahatan dg kebaikan yg bisa menghapusnya. Kemudian, berakhlaqlah kamu kepada manusia dg akhlaq yg baik ( HR AHMAD, AL HAKIM, ALBAIHAQIE DARI ABI DZARRIN, AHMAD, TARMIDZI, AL BAIHAQIE DARI MU’ADZ, IBNU ‘ASAKIR DARI ANAS )
Kemudian kamu meyakini apa yang diberikan oleh seorang Wali Mursyid tersebut sebagai obor ( penerang ) dalam hidup mu. Pasti kamu akan selamat dunia dan akherat. Selanjutnya jika kamu sudah menemukan Guru Mursyid yang seperti itu, Insya Alloh kamu akan menjadi orang yang Ahli Taqwa kepada Alloh. Wallohu A’lam.
MENEMPATKAN KHUSYU DIDALAM PANCA INDRA
Ketika kita mengambil talqin dari seorang mursyid, adalah menyatukan raga, jiwa dan nyawa dikenalkan dengan dzikir, hakikatnya adalah mengenalkan ruh kita kepada ALLoh. Secara otomatis kita dilatih untuk menempatkan khusyu didalam panca indra artinya mengistiqomahkan dzikir tersebut. Lisan berdzikir, hati dan akalpun ikut bebarengan ( bersama-sama ) berdzikir dan inilah yang diisyaratkan oleh ayat berikut:
alam ya/ni lilladziina aamanuu an takhsya’a quluubuhum lidzikrillaahi wamaa nazala mina lhaqqi walaa yakuunuu kalladziina uutuu lkitaaba min qablu fathaala ‘alayhimu l-amadu faqasat quluubuhum wakatsiirun minhum faasiquun
Artimya:
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. ( QS AL-Hadiid ayat 16 )
Dengan demikian kita dituntut supaya bisa ” Huduu’ul Khusyuu’i Bilkhowasil Khomsi ” ( menempatkan khusyu didalam panca indra ).
Artinya ada penglihatan jangan dilihat, ada suara jangan dihiaraukan, ada aroma jangan dicium, ada rabaan jangan diraba, ada rasa jangan dirasakan, bersedakep, menghadap, mantaf dan yakin, serta menutup sembilan lubang ( 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung, mulut, dubur dan qubul ) dengan dzikir. Sehingga menentramkan panca indra yang ada didalam raga, jiwa dan nyawa.
PINTU ANGIN (LUBANG ANGIN)
Jika kita ingin mengetahui hakikat kehidupan ini, maka carilah Pintu Angin ( Lubang Angin ) kalau orang jawa menyebutnya Lawanging Angin. Pintu itu ada didalam keluar masuknya pernafasan kita. Tidak akan dapat ditemukan pintu angin itu tanpa seorang Guru yang ahli dibidangnya ( Guru Pembimbing Ruhani )
Bila kita sudah menemukan seorang Pembimbing Ruhani ( Wali Mursyid ), maka pasti kita akan mengenal hakikat Pintu Angin tersebut. Sebab pintu angin itu ada didalam hakikat nafsu kita.
Dengan ditemukannya Pintu Angin yang terdapat didalam hakikat nafsu inilah, lahir ajaran yang disebut THORIQOH untuk menyiasati Nafsu yang Negatif sehingga menjadi nafsu yang Positif ( Nafsu yang diridhoi oleh Alloh ). Sehingga kita akan memperoleh kebahagiaan yang besar didunia dan diakherat, itulah hakikat Islam yang kaffah.
Islam yang kaffah adalah orang yang senantiasa ta’at (dawamuth Thoo’ati) berdasarkan Al Qur’an dan hadist, sesuai dengan petunjuk rosululloh.
Alloh bersabda :
yaa ayyuhaalladziina aamanuu athii’uullaaha wa-athii’uu rrasuula waulii l-amri minkum fa-in tanaaza’tum fii syay-in farudduuhu ilaallaahi warrasuuli in kuntum tu/minuuna bilaahi walyawmi l-aakhiri dzaalika khayrun wa-ahsanu ta/wiilaa
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. ( QS An-Nisa’ ayat 59 )
Semoga tulisan ini dapat menambah wawasan kita yang sedang belajar dzikir, belajar mengamalkan amanah dari Guru.
Semar / Ismaya
MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.
Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
Yang bukan dikira iya.
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.
Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.
Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:
1. tidak pernah lapar
2. tidak pernah mengantuk
3. tidak pernah jatuh cinta
4. tidak pernah bersedih
5. tidak pernah merasa capek
6. tidak pernah menderita sakit
7. tidak pernah kepanasan
8. tidak pernah kedinginan
kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasi manusia di alam dunia.
Di alam Sunyaruri, Batara Semar dijodohkan dengan Dewi Sanggani putri dari Sanghyang Hening. Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak, yaitu: Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan, Batara Siwah, Batara Wrahaspati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Candra, Batara Kwera, Batara Tamburu, Batara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti. Anak sulung yang bernama Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan mempunyai anak cebol, ipel-ipel dan berkulit hitam. Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan diperintahkan turun di dunia, tinggal di padepokan Pujangkara. Semarasanta ditugaskan mengabdi kepada Resi Kanumanasa di Pertapaan Saptaarga.
Dikisahkan Munculnya Semarasanta di Pertapaan Saptaarga, diawali ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau, ia lari sampai ke Saptaarga dan ditolong oleh Resi Kanumanasa. Ke dua Harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke duanya berubah menjadi bidadari yang cantik jelita. Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat itu Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarsanta.
Sebagai Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia kepada Bendara (tuan)nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan. Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan dibisikan oleh tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin, mempunyai semangat pantang menyerah, rendah hati dan berperilaku mulia, yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta. Dapat dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaqan abadi lahir batin. Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta, yaitu; Resi Manumanasa sampai enam keturunannya, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata dan sampai Arjuna.
Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan oleh eyangnya yaitu Batara Semar. Jika dilihat secara fisik, Semarasanta adalah seorang manusia cebol jelek dan hitam, namun sesungguhnya yang ada dibalik itu ia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.
Karena Batara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung alam dunia, maka ia memakai wadag Janggan Semarasanta sebagai media manitis (tinggal dan menyatu), sehingga akhirnya nama Semarasanta jarang disebut, ia lebih dikenal dengan nama Semar.
Seperti telah ditulis di atas, Semar atau Ismaya adalah penggambaran sesuatau yang tidak jelas tersamar.
Yang ada itu adalah Semarasanta, tetapi sesungguhnya Semarasanta tidak ada.
Yang sesungguhnya ada adalah Batara Semar, namun ia bukan Batara Semar, ia adalah manusia berbadan cebol,berkulit hitam yang bernama Semarasanta.
Memang benar, ia adalah Semarasanta, tetapi yang diperbuat bukan semata-mata perbuatan Semarasanta.
Jika sangat yakin bahwa ia Semarasanta, tiba-tiba berubah keyakinan bahwa ia adalah Batara Semar, dan akhirnya tidak yakin, karena takut keliru. Itulah sesuatu yang belum jelas, masih diSAMARkan, yang digambarkan pada seorang tokoh Semar.
SEMAR adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang egois, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati. Dan orang yang di anugerahi Sang Rahasia, atau SEMAR, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi
MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.
Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
Yang bukan dikira iya.
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.
Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.
Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:
1. tidak pernah lapar
2. tidak pernah mengantuk
3. tidak pernah jatuh cinta
4. tidak pernah bersedih
5. tidak pernah merasa capek
6. tidak pernah menderita sakit
7. tidak pernah kepanasan
8. tidak pernah kedinginan
kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasi manusia di alam dunia.
Di alam Sunyaruri, Batara Semar dijodohkan dengan Dewi Sanggani putri dari Sanghyang Hening. Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak, yaitu: Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan, Batara Siwah, Batara Wrahaspati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Candra, Batara Kwera, Batara Tamburu, Batara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti. Anak sulung yang bernama Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan mempunyai anak cebol, ipel-ipel dan berkulit hitam. Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan diperintahkan turun di dunia, tinggal di padepokan Pujangkara. Semarasanta ditugaskan mengabdi kepada Resi Kanumanasa di Pertapaan Saptaarga.
Dikisahkan Munculnya Semarasanta di Pertapaan Saptaarga, diawali ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau, ia lari sampai ke Saptaarga dan ditolong oleh Resi Kanumanasa. Ke dua Harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke duanya berubah menjadi bidadari yang cantik jelita. Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat itu Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarsanta.
Sebagai Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia kepada Bendara (tuan)nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan. Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan dibisikan oleh tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin, mempunyai semangat pantang menyerah, rendah hati dan berperilaku mulia, yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta. Dapat dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaqan abadi lahir batin. Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta, yaitu; Resi Manumanasa sampai enam keturunannya, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata dan sampai Arjuna.
Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan oleh eyangnya yaitu Batara Semar. Jika dilihat secara fisik, Semarasanta adalah seorang manusia cebol jelek dan hitam, namun sesungguhnya yang ada dibalik itu ia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.
Karena Batara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung alam dunia, maka ia memakai wadag Janggan Semarasanta sebagai media manitis (tinggal dan menyatu), sehingga akhirnya nama Semarasanta jarang disebut, ia lebih dikenal dengan nama Semar.
Seperti telah ditulis di atas, Semar atau Ismaya adalah penggambaran sesuatau yang tidak jelas tersamar.
Yang ada itu adalah Semarasanta, tetapi sesungguhnya Semarasanta tidak ada.
Yang sesungguhnya ada adalah Batara Semar, namun ia bukan Batara Semar, ia adalah manusia berbadan cebol,berkulit hitam yang bernama Semarasanta.
Memang benar, ia adalah Semarasanta, tetapi yang diperbuat bukan semata-mata perbuatan Semarasanta.
Jika sangat yakin bahwa ia Semarasanta, tiba-tiba berubah keyakinan bahwa ia adalah Batara Semar, dan akhirnya tidak yakin, karena takut keliru. Itulah sesuatu yang belum jelas, masih diSAMARkan, yang digambarkan pada seorang tokoh Semar.
SEMAR adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang egois, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati. Dan orang yang di anugerahi Sang Rahasia, atau SEMAR, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi
GALILEUH KANGKUNG bab 2
BAB 2
ILMU GALIHENG KANGKUNG
Oleh: Anfas Kusumu Al-Akhyar
NGGOLEKI GALIHING KANGKUNG, SUSUHING ANGIN LAN TAPAKING KUNTUL NGLAYANG
1. NGGOLEKI GALIHING KANGKUNG;
Jika kita ingin mengetahui hakikat kehidupan ini, maka carilah Pintu Angin orang jawa menyebutnya Lawanging Angin. Pintu itu ada didalam keluar masuknya pernafasan kita. Tidak akan dapat ditemukan pintu angin itu tanpa seorang Guru yang ahli dibidangnya ( Guru Pembimbing Ruhani )
Bila kita sudah menemukan seorang Pembimbing Ruhani ( Wali Mursyid ), maka pasti kita akan mengenal hakikat Pintu Angin tersebut. Sebab pintu angin itu ada didalam hakikat nafsu kita.
Dengan ditemukannya Pintu Angin yang terdapat didalam hakikat nafsu inilah, lahir ajaran yang disebut THORIQOH untuk menyiasati Nafsu yang Negatif sehingga menjadi nafsu yang Positif ( Nafsu yang diridhoi oleh Alloh ). Sehingga kita akan memperoleh kebahagiaan yang besar didunia dan diakherat, itulah hakikat Islam yang kaffah. Lihat ilmu Galiheng Kangkung 1
2. NGGOLEKI SUSUHING ANGIN;
Kalau kita diminta oleh guru spiritual (Guru Mursyid) untuk mencari sarang angin, apa yang akan Anda kerjakan? Mungkin kita akan kebingungan, apa sih maksudnya? Lalu tidak mengerjakan apapun. Atau, mungkin kita akan pergi ke sebuah pantai atau gunung yang tinggi yang kita rasa banyak terdapat anginnya, sama persis ketika Bima Sena mendapat perintah untuk mencari Kayu Gung Susuhing Angin ( Kayu Besar tempat Angin bersarang) dari Resi Drona bapak gurunya. Bima si gagah berani pergi ke lepas pantai, bahkan masuk hingga dasar laut demi mendapatkan sarang angin. Berhasilkah Bima? Tidak. Karena sarang angin tidak berada dimana mana.
Didalam ajaran Falsafah jawa mengatakan:
”Jika kamu memiliki cita cita (kajeng) yang besar (Agung), carilah itu lewat pusat pernapasanmu!”.
Kalau boleh saya artikan maksud dari falsafah jawa tersebut: ” Jika kamu ingin doanya diijabahi oleh Alloh, maka sebelum melakukan sesuatu terlebih dahulu harus mendapatkan restu dari seorang Guru Mursyidmu ”
Sebetulnya ” sarang angin ” itu sendiri adalah sebuah senjata pamungkas yang diberikan oleh Alloh kepada manusia, cuman banyak diantara kita yang tidak tahu cara menggunakannya tanpa petunjuk dari seorang Wali Mursyid. Bagi yang sudah tahu selamat bertawajuh.
Ada masa-masa ketika manusia terjebak pada konotasi leksikal. Apa yang didengar diterjemahkan apa adanya, dan itu pun menurut kehendak logika. Padahal sarang angin yang dimaksud oleh para guru spiritual adalah pusat pernapasan, sesuatu yang sudah ada dan menyatu di dalam diri kita
Angin dalam hal ini adalah disymbolkan dari roh. Maka mencari sarang angin adalah mencari tempat bersemayamnya angin / pusatnya angin berada di jantung kita. Tempat persemayaman roh hanya bisa digapai ketika kita mau masuk dan ‘slulup’ (menyelam) ke dalam roh kita sendiri, yaitu menutup lubang sembilan (Panca Indra) menjadi satu yang berpusat pada qolbu ruhani, bukan qolbu jasmani sehingga yg ada hanya rasa (dzauq) kita yang selalu berdzikir dan ingat Alloh tak mengenal waktu, kondisi, tempat itulah hakikat hidup kita.
Pusat pernapasan yang lebih banyak terlupakan dari pada diingat. Itulah yang diminta oleh para guru ruhani untuk ditemukan dan diisi dengan dzikir. Selanjutnya kita dituntut untuk menggunakan kecerdasan spiritual untuk mengolah setiap pesan dari Guru Mursyid, yang datang lewat qolbu kita yang telah dibersihkan dengan alat dzikir.
Bagaimana caranya? segera ambil talqin dzikir dari Wali Murysid, disinilah pangkal awalnya manusia mengetahui seluk beluk bangsa ruhani, ia akan bisa membedakan mana bangsa roh, hawa nafsu, angan-angan, keinginan atau bisikan-bisakan hati.
Kemungkinan ia akan dibimbing oleh Guru Mursyidnya secara ruhani sehingga ia mengetahui hakikat rohnya, ia tidak akan bingung dan was-was ketika berdzikir, ia akan mengetahui arah qiblatnya, ia akan mengetahui jalanya roh, nyawa dan rasa, ia akan mematuhi segala perintah dan melaksanakannya ketika didalam qolbunya mendapatkan limpahan karunia semisal berupa bisikan suara didalam qolbunya. Ia bisa membedakan mana-mana suara hawa nafsu dan mana suara ilahiyah.
Guru Mursyid-lah yang membimbing muridnya, tidak hanya lewat jasmani tetapi juga lewat ruhani. Biasanya Sang Guru Mursyid mengirim sinyal-sinyal pesan kedalam qolbu si murid. Bagi si murid yang selalu menjaga qolbu dari selain Alloh, maka sinyal-sinyal pesan itu akan diterima dengan begitu jelas dan tidak samar lagi. Jangan heran jika ada seorang Murid yang mengetahui sesuatu perkara yang besar, karena dia mendapatkan limpahan anugerah dari Guru Mursyidnya lewat qolbunya.
Dia akan mengetahui dan mengenali Gurunya walaupun Guru Ruhaninya telah berganti Busana . Tidak ada masalah wadahnya (busananya) itu siapa, tapi ia tahu isinya itu siapa? Beruntunglah seorang murid yang mengenali sinyal atau pesan yang dikirim oleh Gurunya. Semoga kita dibukakan dan diberi anugerah oleh Alloh lewat barokah dari Guru kita, sehingga kita dapat mengetahui pesan-pesan atau sinyal-sinyal dari Guru Kita
3. NGGOLEKI TAPAKING KUNTUL NGLAYANG;
Mencari jejak bangau yang sedang terbang, secara harafiah hal itu tidak mungkin bisa kita ketemukan. Telapak bangau itu ada pada bangau itu sendiri.Begitu juga mencari jejak Tuhan dan bukti-bukti keberadaaNya ada pada wakilnya atau kholifahnya.
Untuk itu kita harus mencari seorang Wali Mursyid karena beliau yang mengetahui dan memiliki jejak-jejak dan bukti-bukti tentang adanya Tuhan, sebab ia mempunyai rantai silsilah emas atau wasilah yang langsung dari Rosululloh, malaikat jibril dan alloh SWT.
Tanpa adanya seorang Wali Mursyid yang menunjukan adanya Alloh. Maka mencari jejak-jejak Tuhan, bukti-bukti akan Tuhan, hanya akan sampai pada kemustahilan untuk bisa memahami keseluruhan akan Tuhan, karena jejak itu ada pada Tuhan sendiri yg terdapat pada kholifahnya.
Dalam Tiga Falsafah jawa diatas kita akan menemukan sebuah Hikmah di dalam enam (6) tempat, yaitu:
1. Hikmah di dalam Rahasia (Sirr)
2. Hikmah di dalam Nyata (Dunia)
3. Hikmah di dalam Roh (nyawa)
4. Hikmah di dalam nafsu (Jiwa)
5. Hikmah di dalam Hati (tiga lubang jantung Qolbun, Syaghofun, Fu’adun)
6. Hikmah di dalam Raga (Badan)
Orang yang belajar Thoriqoh, maka ia akan mendapatkan keenam hikmah tersebut melalui talqin dzikir dari seorang wali Mursyid. Dari sinilah ia akan mengetahui limpahan karunia Alloh didalam dirinya melalui alat yang ditanam oleh Sang Mursyid yang berupa CHIP ISMU DZAT. Chip ini ditanam didalam qolbu sang Murid didalam 3 lubang jantung :
1. Lubang Jantung Pertama (Qolbun)
Adalah Lubang yang menjadi tempat huruf ( Ismu Dzat )
Sesuai dengan isyarah Surat Ali-imron ayat 167:
waliya’lamalladziina naafaquu waqiila lahum ta’aalaw qaatiluu fii sabiilillaahi awi idfa’uu qaaluu law na’lamu qitaalan lattaba’naakum hum lilkufri yawma-idzin aqrabu minhum lil-iimaani yaquuluuna bi-afwaahihim maa laysa fii quluubihim walaahu a’lamu bimaa yaktumuun
Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. ( QS.Ali-Imron ayat 167 )
Didalam ayat ini menyebutkan kata ” Yaquuluuna bi afwaahihim maa laisa fii quluubihim ” ( mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya ). ini dapat kita simpulkan bahwa perkataan yang keluar dari mulut kita, belum tentu berdasarkan perkataan yang keluar dari quluub.
Syech Ahmad Misbahul Munir Muslim berpendapat: kata Quluub ialah sighot Jama’ taksir yang Mufrodnya adalah kata Qolbun, sedangkan kata Qolbun mempunyai makna yang di isyarahkan ayat berikut:
man khasyiya rrahmaana bilghaybi wajaa-a biqalbin muniib
(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, ( QS Qoof ayat 33 )
Dengan dasar ayat inilah adanya penanaman CHIP ISMU DZAT oleh seorang Mursyid. Disebabkan qolbun itulah yang bisa bertaubat kepada Alloh SWT dan taubat itu sendiri harus mengacu pada 4 rukun yaitu:
1. Merasa menyesal telah melakukan maksiat
2. Berani berhenti total dari pekerjaan maksiat
3. Tidak akan kembali lagi pada pekerjaan kemaksiatan
4. Mengembalikan hak Alloh dan hak Adami
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa kata Qolbun sebagai locus (tempat) ajaran Islam, yang memerlukan syiar melalui statemen lisan, dengan terlebih dahulu mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai saksi secara lisan bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah Rosululloh.
karena itulah penanaman CHIP ISMU DZAT pada lubang Jantung yang pertama ( QOLBUN ) oleh seorang Mursyid melalui Talqin Dzikir itu dilakukan, sebab Lubang Jantung Pertama (QOLBUN) adalah sebagai tempat huruf dan asal keluarnya suara, baik suara QULUUB yang diperagakan melalui isyarat-isyarat, maupun suara mulut yang jelas atau tidak jelas.
Menurut Ilmu Medis disebut ARTERY CAROTID (Sepasang saluran darah VERTEBRATA yang berasal dari bagian lengkung AORTA, yang mensuplai darah beroksigen ke kepala) Lihat kamus Biologi As’ad Sungguh halaman 40.
Serta ARTERY SUBCLAVIAN ( Saluran darah yang mensuplai darah beroksigen ke anggota atas manusia, saluran darah ini bercabang dari AORTA, berdekatan dengan ARTERY CAROTID ) Lihat kamus lengkap Biologi As’ad sungguh halaman 40.
Dan inilah yang diisyaratkan hadist berikut:
” Barang yang halal adalah sangat jelas, barang yang harampun sangat jelas, diantara keduannya ialah masalah-masalah syubhat (samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui tentangnya, kemudian barangsiapa takut Syubhat, maka ia selamat bagi kehormatan dan agamannya, dan barangsiapa terjerumus didalam Syubhat itu, maka ia pun terjerumus didalam barang yang haram, seperti pengembala yang mengembalakan hewan didaerah terlarang adalah nyaris terjerumus kedalamnya, Ingatla ! Sesungguhnya bagi setiap raja mempunyai daerah terlarang, dan daerah terlarang bagi Alloh Ta’ala dibumiNya, adalah barang-barang yang diharamkan oleh-Nya, Ingatlah ! Sesungguhnya didalam jasad ada segumpal darah, yang apabila segumpal darah itu baik, maka seluruh tubuh menjadi baik, dan apabila segumpal darah tersebut rusak, maka seluruh tubuhpun menjadi rusak, dan ingatlah segumpal darah itulah yang disebut QOLB ” ( HR. Al-Bukhori. At-Tarmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah dari An-Nu’man bin Basyir, sohih) lihat Kitab Al-jami’ush shoghir halaman 153 juz awal
2. Lubang Jantung Kedua ( SYAGHOF )
Adalah Lubang yang menjadi tempat nafsu ( nafsu positif dan nafsu negatif )
Menurut Syech Ahmad Misbakhul Munir Muslim Kata syaghof dimabil dari isyarah fi’il madhinya yaitu tertera pada ayat berikut:
waqaala niswatun fii lmadiinati imra-atu l’aziizi turaawidu fataahaa ‘an nafsihi qad syaghafahaa hubban innaa lanaraahaa fii dhalaalin mubiin
Dan wanita-wanita di kota berkata: “Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” ( QS. Yusuf ayat 30 )
Istilah ini adalah tepatnya sebagai Locus (tempat) Kehidupan manusia, yang eksistensinya ialah jantung. Jadi didalam ayat ini membicarakan tentang cinta yang sangat mendalam dengan kata QOD SYAGHOFAHAA KHUBBAHAA ( Sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam ) lebih dominan kepada gerak nafsu (Jiwa), yang dipenuhi dengan keinginan-keinginan.
Dengan dasar inilah para Guru Mursyid menanamkan CHIP ISMU DZAT didalam lubang jantung yang kedua ( SYAGHOF ), Yaitu lubang yang untuk keluar masuknya pernapasan, dan didalam istilah medis disebut ARTERY PULMONARY ( sepasang saluran darah yang bercabang keluar dari lengkung AORTA, saluran darah ini mengalirkan darah yang tak beroksigen dari VENTRIKEL (denyut jantung) kanan ke paru-paru ) Lihat kamus lengkap Biologi As’ad Sungguh halaman 40.
Selama para makhluk termasuk manusia masih keluar masuk melalui lubang jantung kedua (syaghof), mereka pasti mempunyai keinginan-keinginan baik yang positif maupun negatif. Jika lubang jantung kedua ini tidak ditanam CHIP ISMU DZAT, maka kita tidak bisa mengontrol dan membedakan mana nafsu positif dan mana nafsu negatif, beruntunglah bila kita sudah mengambil talqin dzikir dari seorang Wali Mursyid.
3. Lubang Jantung Ketiga (FU’AD)
Adalah Lubang yang menjadi tempat At-Tauhid ( meng-Esakan )
Didalam surat An-Nahl ayat 78 mengandung Isyarah Lubang Jantung Ketiga (FU’AD) yaitu:
walaahu akhrajakum min buthuuni ummahaatikum laa ta’lamuuna syay-an waja’ala lakumu ssam’a wal-abshaara wal-af-idata la’allakum tasykuruun
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendenganran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl ayat 78)
Didalam ayat ini disebutkan kata ASSAM’A (pendegaran), AL-ABSHOORO (penglihatan) dan AF-IDATA (hati), ialah menunjukan bahwa tiga alat vital ini sangatlah menentukan pada kehidupan manusia, sebab melalui tiga alat vital ini (assam’a, abshoro dan Af”idah) ia bisa menerima ilmu, baik ilmu Nadhory (ilmu yang sulit) maupun ilmu Dhorury (Ilmu yang mudah).
Namun kalau kita cermati ayat ini, niscaya kita akan dapat menyimpulkan bahwa yang lebih sangat menentukan adalah AF’IDAH. Karena kata Af’idah berbentuk jamak Taksir dari kata FU’ADU. Sementara kata Fu’ad itu mempunyai makna seperti yang ditegaskan ayat sebagai berikut:
maa kadzaba lfu-aadu maa raaa
Artinya :
Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. (QS. An-Najmi ayat 11)
Didalam istilah medis lubang Jantung Ketiga (AL-FU’AD) disebut ARTERY HEPATIC (cabang arteri yang mensuplai darah ke hati, perut, pangkreas, empedu dan omentum utama) Lihat kamus lengkap Biologi AS’AD Sungguh halaman 40.
Kenapa kata Fu’ad nmenjadi tempat keyakinan ? alasanya adalah sebelum kata Al-Fu’ad tersebut didahului dengan kata maa kadzaba (betul-betul tidak bohong). Sementara kata Kadzaba menurut ahli shorof disebut fi’il madhi. Dan Fi’il Madhi menurut Pakar Balaghoh (sastra) adalah mempunyai faidah Tahaqquqil Wuqu’ (pasti terjadi) yang istilah lain dari kata pasti ialah YAQIN. misal : satu ditambah satu pasti ada dua atau yaqin ada dua.
Dan perlu kita ketahui bahwa istilah FU’AD, AF’IDAH, QOLB, QOLBAINI, QULUUB dan kata SYAGHOF dari isyrah fi’il madhinya, yang semua kata tersebut secara umum diartikan HATI (Angka dibalik surah al fatihah : Assyech Ahmad Misbahul munir Muslim)
Inilah suatu RAHASIA yang terbesar kenapa kita harus mengambil Talqin Dzikir dari seorang Wali Mursyid, sebab tanpa penanaman CHIP ISMU DZAT tersebut oleh Wali Mursyid, maka yang akan mentalqin adalah Syaithon. Ayo mulai dari sekarang ambil talqin dzikir dari Wali Mursyid….Semoga kita semua mendapatkan Rahmat Alloh melalui wasilah Seorang Wali Mursyid.
Tiga Tempat penanaman MODEL CHIP ISMU DZAT yang ditanam oleh seorang Wali Mursyid didalam qolbu Muridnya
1. Lubang yang menjadi tempat huruf ( Ismu Dzat ) dzikirnya Laa ilaha illalloh
2. Lubang yang menjadi tempat nafsu (nafsu positif dan nafsu negatif) dzikirnya Alloh
3. Lubang yang menjadi tempat At-Tauhid ( meng-Esakan ) dzikirnya HU
ILMU GALIHENG KANGKUNG
Oleh: Anfas Kusumu Al-Akhyar
NGGOLEKI GALIHING KANGKUNG, SUSUHING ANGIN LAN TAPAKING KUNTUL NGLAYANG
1. NGGOLEKI GALIHING KANGKUNG;
Jika kita ingin mengetahui hakikat kehidupan ini, maka carilah Pintu Angin orang jawa menyebutnya Lawanging Angin. Pintu itu ada didalam keluar masuknya pernafasan kita. Tidak akan dapat ditemukan pintu angin itu tanpa seorang Guru yang ahli dibidangnya ( Guru Pembimbing Ruhani )
Bila kita sudah menemukan seorang Pembimbing Ruhani ( Wali Mursyid ), maka pasti kita akan mengenal hakikat Pintu Angin tersebut. Sebab pintu angin itu ada didalam hakikat nafsu kita.
Dengan ditemukannya Pintu Angin yang terdapat didalam hakikat nafsu inilah, lahir ajaran yang disebut THORIQOH untuk menyiasati Nafsu yang Negatif sehingga menjadi nafsu yang Positif ( Nafsu yang diridhoi oleh Alloh ). Sehingga kita akan memperoleh kebahagiaan yang besar didunia dan diakherat, itulah hakikat Islam yang kaffah. Lihat ilmu Galiheng Kangkung 1
2. NGGOLEKI SUSUHING ANGIN;
Kalau kita diminta oleh guru spiritual (Guru Mursyid) untuk mencari sarang angin, apa yang akan Anda kerjakan? Mungkin kita akan kebingungan, apa sih maksudnya? Lalu tidak mengerjakan apapun. Atau, mungkin kita akan pergi ke sebuah pantai atau gunung yang tinggi yang kita rasa banyak terdapat anginnya, sama persis ketika Bima Sena mendapat perintah untuk mencari Kayu Gung Susuhing Angin ( Kayu Besar tempat Angin bersarang) dari Resi Drona bapak gurunya. Bima si gagah berani pergi ke lepas pantai, bahkan masuk hingga dasar laut demi mendapatkan sarang angin. Berhasilkah Bima? Tidak. Karena sarang angin tidak berada dimana mana.
Didalam ajaran Falsafah jawa mengatakan:
”Jika kamu memiliki cita cita (kajeng) yang besar (Agung), carilah itu lewat pusat pernapasanmu!”.
Kalau boleh saya artikan maksud dari falsafah jawa tersebut: ” Jika kamu ingin doanya diijabahi oleh Alloh, maka sebelum melakukan sesuatu terlebih dahulu harus mendapatkan restu dari seorang Guru Mursyidmu ”
Sebetulnya ” sarang angin ” itu sendiri adalah sebuah senjata pamungkas yang diberikan oleh Alloh kepada manusia, cuman banyak diantara kita yang tidak tahu cara menggunakannya tanpa petunjuk dari seorang Wali Mursyid. Bagi yang sudah tahu selamat bertawajuh.
Ada masa-masa ketika manusia terjebak pada konotasi leksikal. Apa yang didengar diterjemahkan apa adanya, dan itu pun menurut kehendak logika. Padahal sarang angin yang dimaksud oleh para guru spiritual adalah pusat pernapasan, sesuatu yang sudah ada dan menyatu di dalam diri kita
Angin dalam hal ini adalah disymbolkan dari roh. Maka mencari sarang angin adalah mencari tempat bersemayamnya angin / pusatnya angin berada di jantung kita. Tempat persemayaman roh hanya bisa digapai ketika kita mau masuk dan ‘slulup’ (menyelam) ke dalam roh kita sendiri, yaitu menutup lubang sembilan (Panca Indra) menjadi satu yang berpusat pada qolbu ruhani, bukan qolbu jasmani sehingga yg ada hanya rasa (dzauq) kita yang selalu berdzikir dan ingat Alloh tak mengenal waktu, kondisi, tempat itulah hakikat hidup kita.
Pusat pernapasan yang lebih banyak terlupakan dari pada diingat. Itulah yang diminta oleh para guru ruhani untuk ditemukan dan diisi dengan dzikir. Selanjutnya kita dituntut untuk menggunakan kecerdasan spiritual untuk mengolah setiap pesan dari Guru Mursyid, yang datang lewat qolbu kita yang telah dibersihkan dengan alat dzikir.
Bagaimana caranya? segera ambil talqin dzikir dari Wali Murysid, disinilah pangkal awalnya manusia mengetahui seluk beluk bangsa ruhani, ia akan bisa membedakan mana bangsa roh, hawa nafsu, angan-angan, keinginan atau bisikan-bisakan hati.
Kemungkinan ia akan dibimbing oleh Guru Mursyidnya secara ruhani sehingga ia mengetahui hakikat rohnya, ia tidak akan bingung dan was-was ketika berdzikir, ia akan mengetahui arah qiblatnya, ia akan mengetahui jalanya roh, nyawa dan rasa, ia akan mematuhi segala perintah dan melaksanakannya ketika didalam qolbunya mendapatkan limpahan karunia semisal berupa bisikan suara didalam qolbunya. Ia bisa membedakan mana-mana suara hawa nafsu dan mana suara ilahiyah.
Guru Mursyid-lah yang membimbing muridnya, tidak hanya lewat jasmani tetapi juga lewat ruhani. Biasanya Sang Guru Mursyid mengirim sinyal-sinyal pesan kedalam qolbu si murid. Bagi si murid yang selalu menjaga qolbu dari selain Alloh, maka sinyal-sinyal pesan itu akan diterima dengan begitu jelas dan tidak samar lagi. Jangan heran jika ada seorang Murid yang mengetahui sesuatu perkara yang besar, karena dia mendapatkan limpahan anugerah dari Guru Mursyidnya lewat qolbunya.
Dia akan mengetahui dan mengenali Gurunya walaupun Guru Ruhaninya telah berganti Busana . Tidak ada masalah wadahnya (busananya) itu siapa, tapi ia tahu isinya itu siapa? Beruntunglah seorang murid yang mengenali sinyal atau pesan yang dikirim oleh Gurunya. Semoga kita dibukakan dan diberi anugerah oleh Alloh lewat barokah dari Guru kita, sehingga kita dapat mengetahui pesan-pesan atau sinyal-sinyal dari Guru Kita
3. NGGOLEKI TAPAKING KUNTUL NGLAYANG;
Mencari jejak bangau yang sedang terbang, secara harafiah hal itu tidak mungkin bisa kita ketemukan. Telapak bangau itu ada pada bangau itu sendiri.Begitu juga mencari jejak Tuhan dan bukti-bukti keberadaaNya ada pada wakilnya atau kholifahnya.
Untuk itu kita harus mencari seorang Wali Mursyid karena beliau yang mengetahui dan memiliki jejak-jejak dan bukti-bukti tentang adanya Tuhan, sebab ia mempunyai rantai silsilah emas atau wasilah yang langsung dari Rosululloh, malaikat jibril dan alloh SWT.
Tanpa adanya seorang Wali Mursyid yang menunjukan adanya Alloh. Maka mencari jejak-jejak Tuhan, bukti-bukti akan Tuhan, hanya akan sampai pada kemustahilan untuk bisa memahami keseluruhan akan Tuhan, karena jejak itu ada pada Tuhan sendiri yg terdapat pada kholifahnya.
Dalam Tiga Falsafah jawa diatas kita akan menemukan sebuah Hikmah di dalam enam (6) tempat, yaitu:
1. Hikmah di dalam Rahasia (Sirr)
2. Hikmah di dalam Nyata (Dunia)
3. Hikmah di dalam Roh (nyawa)
4. Hikmah di dalam nafsu (Jiwa)
5. Hikmah di dalam Hati (tiga lubang jantung Qolbun, Syaghofun, Fu’adun)
6. Hikmah di dalam Raga (Badan)
Orang yang belajar Thoriqoh, maka ia akan mendapatkan keenam hikmah tersebut melalui talqin dzikir dari seorang wali Mursyid. Dari sinilah ia akan mengetahui limpahan karunia Alloh didalam dirinya melalui alat yang ditanam oleh Sang Mursyid yang berupa CHIP ISMU DZAT. Chip ini ditanam didalam qolbu sang Murid didalam 3 lubang jantung :
1. Lubang Jantung Pertama (Qolbun)
Adalah Lubang yang menjadi tempat huruf ( Ismu Dzat )
Sesuai dengan isyarah Surat Ali-imron ayat 167:
waliya’lamalladziina naafaquu waqiila lahum ta’aalaw qaatiluu fii sabiilillaahi awi idfa’uu qaaluu law na’lamu qitaalan lattaba’naakum hum lilkufri yawma-idzin aqrabu minhum lil-iimaani yaquuluuna bi-afwaahihim maa laysa fii quluubihim walaahu a’lamu bimaa yaktumuun
Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. ( QS.Ali-Imron ayat 167 )
Didalam ayat ini menyebutkan kata ” Yaquuluuna bi afwaahihim maa laisa fii quluubihim ” ( mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya ). ini dapat kita simpulkan bahwa perkataan yang keluar dari mulut kita, belum tentu berdasarkan perkataan yang keluar dari quluub.
Syech Ahmad Misbahul Munir Muslim berpendapat: kata Quluub ialah sighot Jama’ taksir yang Mufrodnya adalah kata Qolbun, sedangkan kata Qolbun mempunyai makna yang di isyarahkan ayat berikut:
man khasyiya rrahmaana bilghaybi wajaa-a biqalbin muniib
(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, ( QS Qoof ayat 33 )
Dengan dasar ayat inilah adanya penanaman CHIP ISMU DZAT oleh seorang Mursyid. Disebabkan qolbun itulah yang bisa bertaubat kepada Alloh SWT dan taubat itu sendiri harus mengacu pada 4 rukun yaitu:
1. Merasa menyesal telah melakukan maksiat
2. Berani berhenti total dari pekerjaan maksiat
3. Tidak akan kembali lagi pada pekerjaan kemaksiatan
4. Mengembalikan hak Alloh dan hak Adami
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa kata Qolbun sebagai locus (tempat) ajaran Islam, yang memerlukan syiar melalui statemen lisan, dengan terlebih dahulu mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai saksi secara lisan bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah Rosululloh.
karena itulah penanaman CHIP ISMU DZAT pada lubang Jantung yang pertama ( QOLBUN ) oleh seorang Mursyid melalui Talqin Dzikir itu dilakukan, sebab Lubang Jantung Pertama (QOLBUN) adalah sebagai tempat huruf dan asal keluarnya suara, baik suara QULUUB yang diperagakan melalui isyarat-isyarat, maupun suara mulut yang jelas atau tidak jelas.
Menurut Ilmu Medis disebut ARTERY CAROTID (Sepasang saluran darah VERTEBRATA yang berasal dari bagian lengkung AORTA, yang mensuplai darah beroksigen ke kepala) Lihat kamus Biologi As’ad Sungguh halaman 40.
Serta ARTERY SUBCLAVIAN ( Saluran darah yang mensuplai darah beroksigen ke anggota atas manusia, saluran darah ini bercabang dari AORTA, berdekatan dengan ARTERY CAROTID ) Lihat kamus lengkap Biologi As’ad sungguh halaman 40.
Dan inilah yang diisyaratkan hadist berikut:
” Barang yang halal adalah sangat jelas, barang yang harampun sangat jelas, diantara keduannya ialah masalah-masalah syubhat (samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui tentangnya, kemudian barangsiapa takut Syubhat, maka ia selamat bagi kehormatan dan agamannya, dan barangsiapa terjerumus didalam Syubhat itu, maka ia pun terjerumus didalam barang yang haram, seperti pengembala yang mengembalakan hewan didaerah terlarang adalah nyaris terjerumus kedalamnya, Ingatla ! Sesungguhnya bagi setiap raja mempunyai daerah terlarang, dan daerah terlarang bagi Alloh Ta’ala dibumiNya, adalah barang-barang yang diharamkan oleh-Nya, Ingatlah ! Sesungguhnya didalam jasad ada segumpal darah, yang apabila segumpal darah itu baik, maka seluruh tubuh menjadi baik, dan apabila segumpal darah tersebut rusak, maka seluruh tubuhpun menjadi rusak, dan ingatlah segumpal darah itulah yang disebut QOLB ” ( HR. Al-Bukhori. At-Tarmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah dari An-Nu’man bin Basyir, sohih) lihat Kitab Al-jami’ush shoghir halaman 153 juz awal
2. Lubang Jantung Kedua ( SYAGHOF )
Adalah Lubang yang menjadi tempat nafsu ( nafsu positif dan nafsu negatif )
Menurut Syech Ahmad Misbakhul Munir Muslim Kata syaghof dimabil dari isyarah fi’il madhinya yaitu tertera pada ayat berikut:
waqaala niswatun fii lmadiinati imra-atu l’aziizi turaawidu fataahaa ‘an nafsihi qad syaghafahaa hubban innaa lanaraahaa fii dhalaalin mubiin
Dan wanita-wanita di kota berkata: “Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” ( QS. Yusuf ayat 30 )
Istilah ini adalah tepatnya sebagai Locus (tempat) Kehidupan manusia, yang eksistensinya ialah jantung. Jadi didalam ayat ini membicarakan tentang cinta yang sangat mendalam dengan kata QOD SYAGHOFAHAA KHUBBAHAA ( Sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam ) lebih dominan kepada gerak nafsu (Jiwa), yang dipenuhi dengan keinginan-keinginan.
Dengan dasar inilah para Guru Mursyid menanamkan CHIP ISMU DZAT didalam lubang jantung yang kedua ( SYAGHOF ), Yaitu lubang yang untuk keluar masuknya pernapasan, dan didalam istilah medis disebut ARTERY PULMONARY ( sepasang saluran darah yang bercabang keluar dari lengkung AORTA, saluran darah ini mengalirkan darah yang tak beroksigen dari VENTRIKEL (denyut jantung) kanan ke paru-paru ) Lihat kamus lengkap Biologi As’ad Sungguh halaman 40.
Selama para makhluk termasuk manusia masih keluar masuk melalui lubang jantung kedua (syaghof), mereka pasti mempunyai keinginan-keinginan baik yang positif maupun negatif. Jika lubang jantung kedua ini tidak ditanam CHIP ISMU DZAT, maka kita tidak bisa mengontrol dan membedakan mana nafsu positif dan mana nafsu negatif, beruntunglah bila kita sudah mengambil talqin dzikir dari seorang Wali Mursyid.
3. Lubang Jantung Ketiga (FU’AD)
Adalah Lubang yang menjadi tempat At-Tauhid ( meng-Esakan )
Didalam surat An-Nahl ayat 78 mengandung Isyarah Lubang Jantung Ketiga (FU’AD) yaitu:
walaahu akhrajakum min buthuuni ummahaatikum laa ta’lamuuna syay-an waja’ala lakumu ssam’a wal-abshaara wal-af-idata la’allakum tasykuruun
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendenganran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl ayat 78)
Didalam ayat ini disebutkan kata ASSAM’A (pendegaran), AL-ABSHOORO (penglihatan) dan AF-IDATA (hati), ialah menunjukan bahwa tiga alat vital ini sangatlah menentukan pada kehidupan manusia, sebab melalui tiga alat vital ini (assam’a, abshoro dan Af”idah) ia bisa menerima ilmu, baik ilmu Nadhory (ilmu yang sulit) maupun ilmu Dhorury (Ilmu yang mudah).
Namun kalau kita cermati ayat ini, niscaya kita akan dapat menyimpulkan bahwa yang lebih sangat menentukan adalah AF’IDAH. Karena kata Af’idah berbentuk jamak Taksir dari kata FU’ADU. Sementara kata Fu’ad itu mempunyai makna seperti yang ditegaskan ayat sebagai berikut:
maa kadzaba lfu-aadu maa raaa
Artinya :
Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. (QS. An-Najmi ayat 11)
Didalam istilah medis lubang Jantung Ketiga (AL-FU’AD) disebut ARTERY HEPATIC (cabang arteri yang mensuplai darah ke hati, perut, pangkreas, empedu dan omentum utama) Lihat kamus lengkap Biologi AS’AD Sungguh halaman 40.
Kenapa kata Fu’ad nmenjadi tempat keyakinan ? alasanya adalah sebelum kata Al-Fu’ad tersebut didahului dengan kata maa kadzaba (betul-betul tidak bohong). Sementara kata Kadzaba menurut ahli shorof disebut fi’il madhi. Dan Fi’il Madhi menurut Pakar Balaghoh (sastra) adalah mempunyai faidah Tahaqquqil Wuqu’ (pasti terjadi) yang istilah lain dari kata pasti ialah YAQIN. misal : satu ditambah satu pasti ada dua atau yaqin ada dua.
Dan perlu kita ketahui bahwa istilah FU’AD, AF’IDAH, QOLB, QOLBAINI, QULUUB dan kata SYAGHOF dari isyrah fi’il madhinya, yang semua kata tersebut secara umum diartikan HATI (Angka dibalik surah al fatihah : Assyech Ahmad Misbahul munir Muslim)
Inilah suatu RAHASIA yang terbesar kenapa kita harus mengambil Talqin Dzikir dari seorang Wali Mursyid, sebab tanpa penanaman CHIP ISMU DZAT tersebut oleh Wali Mursyid, maka yang akan mentalqin adalah Syaithon. Ayo mulai dari sekarang ambil talqin dzikir dari Wali Mursyid….Semoga kita semua mendapatkan Rahmat Alloh melalui wasilah Seorang Wali Mursyid.
Tiga Tempat penanaman MODEL CHIP ISMU DZAT yang ditanam oleh seorang Wali Mursyid didalam qolbu Muridnya
1. Lubang yang menjadi tempat huruf ( Ismu Dzat ) dzikirnya Laa ilaha illalloh
2. Lubang yang menjadi tempat nafsu (nafsu positif dan nafsu negatif) dzikirnya Alloh
3. Lubang yang menjadi tempat At-Tauhid ( meng-Esakan ) dzikirnya HU
saudara sembilan
Saudara sembilan ( Sedulur songo ) kenyataannya tidaklah berada terus
menerus dibagian badan Jasad Kasar ini. Halusnya berujud cahaya yang
mempunyai warna sendiri-sendiri. Kodratullah-oranye, Wujudullah–hitam,
Sipatullah–kuning, Datullah–putih, Sirullah–merah, Pangaribawa–biru,
Prabawa–kuning emas, Kamayan–putih terang kemilau.
Semua saudara terjadi/tercipta bersamaan dengan turunnya Roh Suci didalam rahim ibu. Kamayan, Prabawa dan Pangaribawa ketiga-tiganya menjadi satu merupakan sang “aku” dari manusia (aku disini bukan “pribadi”), yaitu kekuasaan yang diberikan oleh Allah, untuk mengendalikan kelima saudara lainnya (sirullah, datullah, sipatullah, wujudullah dan kodratullah). Jadi ketiganya menjadi satu angan-angan yang bersifat tiga, punya watak dan kekuasaan sendiri-sendiri. Kekuasaan tertinggi adalah Kamayan, kemudian Prabawa, baru Pangaribawa. Dalam bertindak ketiga-tiganya selalu berbarengan dan membantu/menjiwai/memberi kekuatan tindakan saudara-saudara lainnya. Walaupun menerima kuasa dari Allah, namun tri-tunggal Kamayan-Prabawa-Pangaribawa tidaklah mampu menjamin kesejahteraan jiwa. Yang dapat menjamin kesejahteraan dan keharmonisan jiwa manusia hanyalah Tri Tunggal Mahasuci, Allah, Ingsun dan Roh Suci.
Berikut uraian/penjelasan mengenai Sedulur Songo ( Saudara Sembilan ).
Kodratullah, terjadi dari bayangan Rahsa Jati, wadagnya berada pada dikemaluan. Berkecenderungan negatif kearah nafsu sahwat. Apabila dapat dikuasai maka akan dapat diarahkan menjadi dasar kekuatan akan keindahan.
Wujudullah, yang terjadi dari anasir tanah/bumi wadagnya ada di daging-kulit. Berkecenderungan serakah, tamak, mau menang sendiri, curang, lamban, malas, serta menjauhkan dari kebaikan. Namun kalau dapat dikuasai bisa menjadi dasar kekuatan jasmani dan ketabahan serta tahan penderitaan.
Sirullah, yang terjadi dari anasir api, wadagnya berada didalam darah. Wataknya berangasan, amarah, tidak sabaran dan gelap mata. Kalau bisa dikendalikan menjadi kemauan, tekad dan ketekunan bahkan menjadi jalan bagi saudara-saudara lainnya dalam mencapai tujuan. Tanpa bantuan dan daya Sirullah maka tiada dapat tercapai.
Sifatullah, terjadi dari anasir air, wadagnya berada didalam tulang dan sumsum. Kekuatannya terasakan sebagai kehendak, yang menyebabkan adanya keinginan-keinginan, atau cita-cita. Dapat menjadi sarana Karsa Allah. Akan menjadi negatif apabila tidak dikendalikan, kearah kegemaran-kegemaran serta kesenangan-kesenangan yang tidak baik.
Dazullah, terjadi dari anasir hawa, berada di napas. Mempunyai watak jernih, belas kasih, bekti, cenderung akan hal-hal kesucian. Kekuatannya sanggup menimbulkan kesanggupan untuk berkorban atas dasar kasih, mendorong untuk tercapainya ketenteraman dalam hidup dengan sesama. Kekuatannya menimbulkan kesanggupan untuk berbakti, penyerahan total manembah kepada Panuntun Sejati/Guru Sejati untuk makin mendekat dan bersatu dengan Allah.
Pangaribawa, terjadi dari bayangan Roh Suci, wadagnya berujud pusar dan halusnya ada di angan-angan berupa “cipta”. Merupakan kekuatan paling bawah dari jiwa manusia. Pangaribawa memberi kekuatan kepada fungsi pancaindera. Maka, kekuatan ini seyogyanya diarahkan untuk menangkap hal-hal yang positif sesuai ajaran Guru Sejati untuk keutamaan hidup.
Prabawa, terjadi dari bayangan Ingsun/Guru Sejati, halusnya berada di angan-angan berupa “nalar”. Daya kekuatannya melebihi Pangaribawa. Prabawa memberi kemampuan untuk mengolah semua hal yang ditangkap oleh Pangaribawa. Prabawa kemudian mendorong akan timbulnya pertanyaan apa, kenapa, bagaimana, dsb. Untuk menemukan jawaban yang tepat. Seyogyanya Prabawa haruslah didampingi erat oleh Datullah yang mendorong kearah kejujuran dan cinta kebenaran agar tidak terjerumus kerah pembenaran-pembenaran tindakan yang salah.
Kamayan, merupakan bayangan dari Allah ta’ala/Pengeran/Gusti Yang Maha Agung, wadagnya wujud jantung dan halusnya berada di angan-angan berupa “akal budi”. Kekuatannya yang disebut Kamayan atau Maya adalah kekuatan tertinggi dari angan-angan. Kamayan memberi kemampuan untuk memperoleh pengertian-pengertian yang luas dan mendalam mengenai hal-hal yang ditangkap oleh Pangaribawa dan Prabawa, sehingga dapat diambil intinya dan kesimpulannya.
Bayu Sejati, terjadi dari daya kekuatan kuasa Allah, wadagnya di tulang ekor sampai sumsum tulang belakang. Mempunyai daya kekuatan luar biasa. Enerji kundalini adalah salah satu daya kekuatan yang bersumber dari Bayu Sejati.
Kesembilan saudara; Bayu Sejati, Sirullah, Datullah, Sifatullah, Wujudullah, Kodratullah, Pangaribawa, Prabawa dan Kamayan, berada dalam badan halusan manusia, yang harus dapat dikuasai agar saling bekerja sama dengan baik, agar tercapailah keadaan jiwa yang seimbang dan harmonis untuk meningkatkan keutamaan/budi luhur. Sifat angan-angan (Pangaribawa, Prabawa dan Kamayan) yang cenderung dapat menghalangi merasuknya pancaran sinar Illahi adalah karena sifat kedaulatannya, yang menimbulkan “aku” manusia. Aku nya manusia kemudian dapat dihinggapi oleh rasa perasaan kuasa. Inilah yang dapat menyebabkan seolah Nur Hidup merupakan cahaya yang bagaikan bayang-bayang yang tidak jelas, samar, karena tertutup oleh angan-angan.
• Wujudullah dan Kodratullah, bisa sempurna bertindak kalau mendapat daya kekuatan dari Sirullah.
• Sirullah dapat bertindak dengan baik apabila memperoleh daya kekuatan Sipatullah.
• Sipatullah yang mengkoordinasikan agar Sirullah dan Wujudullah serta Kodratullah membantu kemauannya.
• Datullah lah yang seharusnya dapat menerangi akan tindakan-tindakan saudara-saudara lainnya. Jadi Sipatullah harus mau menerima pepadang/penerangan dari Datullah, yang kemudian memberi daya kepada Datullah untuk dapat menerangi ketiga saudara lainnya yaitu Sirullah, Wujudullah dan Kodratullah agar berjalan didalam kebenaran dan kebaikan. Maka demikian pula Sipatullah tanpa bekerja sama dengan Datullah, akan menjadi budak Sirullah, Wujudullah dan Kodratullah, yang cenderung diajak berjalan kearah ketidak baikan/hal-hal negatif.
• Semua hal tersebut, agar dapat terlaksana menjadi tindakan, apabila dibantu/dijiwai oleh ketiga saudara Pangaribawa, Prabawa dan Kamayan. Jadi tiga saudara inilah yang seharusnya menuntun dan memberi jalan kepada Datullah agar menjadi kuat dan menggandeng Sipatullah. Angan-angan menjadi terang apabila mendukung Datullah agar selalu membawa kearah keinginan dan tindakan yang luhur dan membangun watak yang utama.
• Kalau nafsu-nafsu (kelima saudara) dapat dikendalikan/dikuasai, maka angan-angan atau ketiga saudara (Pangaribawa, Prabawa dan Kamayan) menjadi lebih mudah dikendalikan, dikumpulkan menjadi satu didalam hati sanubari, janganlah sampai berhubungan dengan otak. Hal ini sangat diperlukan dalam upaya untuk dapat menerima “anugerah” tuntunan dari Ingsun/Guru Sejati.
• Bayu Sejati lah yang pada akhirnya direngkuh untuk memberi daya lebih untuk tujuan-tujuan spiritual maupun hal-hal kebaikan lainnya yang “lebih jauh”.
Maka apabila kesembilan saudara tadi sudah dapat dikuasai, dikendalikan dan patuh kepada aku sejati ya Roh Suci nya manusia, Wujudullah menjadi dasar kekuatan, Sirullah tidak sabar akan kebaikan, Sipatullah menjadi lantaran keinginan dan kehendak, Datullah menjadi sempurna kesuciannya dan panembahnya kepada Ingsun/Guru Sejati/Rasul Sejati dan Allah. Dimana Pangaribawa, Prabawa dan Kamayan menyatu menjadi satu cipta luhur atau akal budi yang jernih, didalam ketenangan/ketenteraman yang eneng. Dan, terwujudlah jalan rahayu kearah kemulyaan langgeng, Alam Sejati.
Dalam kenyataan hidup keseharian sampai hayat masih dikandung badan, secara terus menerus ngracut busana kamanungsan adalah merupakan PR dan tugas yang harus dilaksanakan secara disiplin terus-menerus oleh kita. Maka, sudah barang tentu tugas ini sangatlah berat.
Semua saudara terjadi/tercipta bersamaan dengan turunnya Roh Suci didalam rahim ibu. Kamayan, Prabawa dan Pangaribawa ketiga-tiganya menjadi satu merupakan sang “aku” dari manusia (aku disini bukan “pribadi”), yaitu kekuasaan yang diberikan oleh Allah, untuk mengendalikan kelima saudara lainnya (sirullah, datullah, sipatullah, wujudullah dan kodratullah). Jadi ketiganya menjadi satu angan-angan yang bersifat tiga, punya watak dan kekuasaan sendiri-sendiri. Kekuasaan tertinggi adalah Kamayan, kemudian Prabawa, baru Pangaribawa. Dalam bertindak ketiga-tiganya selalu berbarengan dan membantu/menjiwai/memberi kekuatan tindakan saudara-saudara lainnya. Walaupun menerima kuasa dari Allah, namun tri-tunggal Kamayan-Prabawa-Pangaribawa tidaklah mampu menjamin kesejahteraan jiwa. Yang dapat menjamin kesejahteraan dan keharmonisan jiwa manusia hanyalah Tri Tunggal Mahasuci, Allah, Ingsun dan Roh Suci.
Berikut uraian/penjelasan mengenai Sedulur Songo ( Saudara Sembilan ).
Kodratullah, terjadi dari bayangan Rahsa Jati, wadagnya berada pada dikemaluan. Berkecenderungan negatif kearah nafsu sahwat. Apabila dapat dikuasai maka akan dapat diarahkan menjadi dasar kekuatan akan keindahan.
Wujudullah, yang terjadi dari anasir tanah/bumi wadagnya ada di daging-kulit. Berkecenderungan serakah, tamak, mau menang sendiri, curang, lamban, malas, serta menjauhkan dari kebaikan. Namun kalau dapat dikuasai bisa menjadi dasar kekuatan jasmani dan ketabahan serta tahan penderitaan.
Sirullah, yang terjadi dari anasir api, wadagnya berada didalam darah. Wataknya berangasan, amarah, tidak sabaran dan gelap mata. Kalau bisa dikendalikan menjadi kemauan, tekad dan ketekunan bahkan menjadi jalan bagi saudara-saudara lainnya dalam mencapai tujuan. Tanpa bantuan dan daya Sirullah maka tiada dapat tercapai.
Sifatullah, terjadi dari anasir air, wadagnya berada didalam tulang dan sumsum. Kekuatannya terasakan sebagai kehendak, yang menyebabkan adanya keinginan-keinginan, atau cita-cita. Dapat menjadi sarana Karsa Allah. Akan menjadi negatif apabila tidak dikendalikan, kearah kegemaran-kegemaran serta kesenangan-kesenangan yang tidak baik.
Dazullah, terjadi dari anasir hawa, berada di napas. Mempunyai watak jernih, belas kasih, bekti, cenderung akan hal-hal kesucian. Kekuatannya sanggup menimbulkan kesanggupan untuk berkorban atas dasar kasih, mendorong untuk tercapainya ketenteraman dalam hidup dengan sesama. Kekuatannya menimbulkan kesanggupan untuk berbakti, penyerahan total manembah kepada Panuntun Sejati/Guru Sejati untuk makin mendekat dan bersatu dengan Allah.
Pangaribawa, terjadi dari bayangan Roh Suci, wadagnya berujud pusar dan halusnya ada di angan-angan berupa “cipta”. Merupakan kekuatan paling bawah dari jiwa manusia. Pangaribawa memberi kekuatan kepada fungsi pancaindera. Maka, kekuatan ini seyogyanya diarahkan untuk menangkap hal-hal yang positif sesuai ajaran Guru Sejati untuk keutamaan hidup.
Prabawa, terjadi dari bayangan Ingsun/Guru Sejati, halusnya berada di angan-angan berupa “nalar”. Daya kekuatannya melebihi Pangaribawa. Prabawa memberi kemampuan untuk mengolah semua hal yang ditangkap oleh Pangaribawa. Prabawa kemudian mendorong akan timbulnya pertanyaan apa, kenapa, bagaimana, dsb. Untuk menemukan jawaban yang tepat. Seyogyanya Prabawa haruslah didampingi erat oleh Datullah yang mendorong kearah kejujuran dan cinta kebenaran agar tidak terjerumus kerah pembenaran-pembenaran tindakan yang salah.
Kamayan, merupakan bayangan dari Allah ta’ala/Pengeran/Gusti Yang Maha Agung, wadagnya wujud jantung dan halusnya berada di angan-angan berupa “akal budi”. Kekuatannya yang disebut Kamayan atau Maya adalah kekuatan tertinggi dari angan-angan. Kamayan memberi kemampuan untuk memperoleh pengertian-pengertian yang luas dan mendalam mengenai hal-hal yang ditangkap oleh Pangaribawa dan Prabawa, sehingga dapat diambil intinya dan kesimpulannya.
Bayu Sejati, terjadi dari daya kekuatan kuasa Allah, wadagnya di tulang ekor sampai sumsum tulang belakang. Mempunyai daya kekuatan luar biasa. Enerji kundalini adalah salah satu daya kekuatan yang bersumber dari Bayu Sejati.
Kesembilan saudara; Bayu Sejati, Sirullah, Datullah, Sifatullah, Wujudullah, Kodratullah, Pangaribawa, Prabawa dan Kamayan, berada dalam badan halusan manusia, yang harus dapat dikuasai agar saling bekerja sama dengan baik, agar tercapailah keadaan jiwa yang seimbang dan harmonis untuk meningkatkan keutamaan/budi luhur. Sifat angan-angan (Pangaribawa, Prabawa dan Kamayan) yang cenderung dapat menghalangi merasuknya pancaran sinar Illahi adalah karena sifat kedaulatannya, yang menimbulkan “aku” manusia. Aku nya manusia kemudian dapat dihinggapi oleh rasa perasaan kuasa. Inilah yang dapat menyebabkan seolah Nur Hidup merupakan cahaya yang bagaikan bayang-bayang yang tidak jelas, samar, karena tertutup oleh angan-angan.
• Wujudullah dan Kodratullah, bisa sempurna bertindak kalau mendapat daya kekuatan dari Sirullah.
• Sirullah dapat bertindak dengan baik apabila memperoleh daya kekuatan Sipatullah.
• Sipatullah yang mengkoordinasikan agar Sirullah dan Wujudullah serta Kodratullah membantu kemauannya.
• Datullah lah yang seharusnya dapat menerangi akan tindakan-tindakan saudara-saudara lainnya. Jadi Sipatullah harus mau menerima pepadang/penerangan dari Datullah, yang kemudian memberi daya kepada Datullah untuk dapat menerangi ketiga saudara lainnya yaitu Sirullah, Wujudullah dan Kodratullah agar berjalan didalam kebenaran dan kebaikan. Maka demikian pula Sipatullah tanpa bekerja sama dengan Datullah, akan menjadi budak Sirullah, Wujudullah dan Kodratullah, yang cenderung diajak berjalan kearah ketidak baikan/hal-hal negatif.
• Semua hal tersebut, agar dapat terlaksana menjadi tindakan, apabila dibantu/dijiwai oleh ketiga saudara Pangaribawa, Prabawa dan Kamayan. Jadi tiga saudara inilah yang seharusnya menuntun dan memberi jalan kepada Datullah agar menjadi kuat dan menggandeng Sipatullah. Angan-angan menjadi terang apabila mendukung Datullah agar selalu membawa kearah keinginan dan tindakan yang luhur dan membangun watak yang utama.
• Kalau nafsu-nafsu (kelima saudara) dapat dikendalikan/dikuasai, maka angan-angan atau ketiga saudara (Pangaribawa, Prabawa dan Kamayan) menjadi lebih mudah dikendalikan, dikumpulkan menjadi satu didalam hati sanubari, janganlah sampai berhubungan dengan otak. Hal ini sangat diperlukan dalam upaya untuk dapat menerima “anugerah” tuntunan dari Ingsun/Guru Sejati.
• Bayu Sejati lah yang pada akhirnya direngkuh untuk memberi daya lebih untuk tujuan-tujuan spiritual maupun hal-hal kebaikan lainnya yang “lebih jauh”.
Maka apabila kesembilan saudara tadi sudah dapat dikuasai, dikendalikan dan patuh kepada aku sejati ya Roh Suci nya manusia, Wujudullah menjadi dasar kekuatan, Sirullah tidak sabar akan kebaikan, Sipatullah menjadi lantaran keinginan dan kehendak, Datullah menjadi sempurna kesuciannya dan panembahnya kepada Ingsun/Guru Sejati/Rasul Sejati dan Allah. Dimana Pangaribawa, Prabawa dan Kamayan menyatu menjadi satu cipta luhur atau akal budi yang jernih, didalam ketenangan/ketenteraman yang eneng. Dan, terwujudlah jalan rahayu kearah kemulyaan langgeng, Alam Sejati.
Dalam kenyataan hidup keseharian sampai hayat masih dikandung badan, secara terus menerus ngracut busana kamanungsan adalah merupakan PR dan tugas yang harus dilaksanakan secara disiplin terus-menerus oleh kita. Maka, sudah barang tentu tugas ini sangatlah berat.
Langganan:
Komentar (Atom)